One day in Malang. Mr Jos mau balik ke Bandung. Dan karena kaum cowok di rumah kami dikutuk sebagai pelupa kronik (namun tak akut), maka Mr Jos berinisiatif menulis barang2 yang tidak boleh tertinggal. No 1 kunci rumah. No 2 dst dst. Trus kami berangkat ke, ugh, ke stasiun apa terminal ya? Dasar pikun kronik.
Aku balik ke rumah sendiri. Kota Malang masih dingin. Ngantuk. Bobo dulu. Tarik selimut. Kling. Apaan tuh. Di kakiku tampaklah … kunci rumah di Bandung. Si nomor 1. Dasar pikun kronik. Eh, tadi udah.
Barusan si Mr Jos kirim mail. Gara2 ada temen membahas buku Andrea Hirata, doi jadi cari buku kesayangan kita Seandainya Mereka Bisa Bicara, by James Herriot. Buku terjemahan terbitan Gramedia itu sayangnya tak dicetak ulang. Dan Mr Jos merasa pikun gara2 nama Edensor doesn’t ring a bell to him. Haha. My poor brother. Tentu saja. Nama itu memang nggak pernah ada di buku Herriot.
Di blog kun.co.ro aku sering nulis tentang Herriot. Bahkan tulisan pertama di tahun 2000 membahas tokoh ini. Sang penulis, Alf Wight bekerja sebagai dokter hewan di kota mungil Thirsk, di Yorkshire; sebelum suatu hari menuliskan pengalaman hidupnya dalam bentuk semi novel yang menggugah dan menceriakan itu. Tapi ada aturan bagi para MRCVS (anggota dewan dokter hewan kerajaan Inggris) untuk tidak mengiklankan diri. Maka Wight menyamarkan nama diri, nama rekan, dan nama kotanya. Jadilah ia James Herriot dari Darrowby. Dan sampai jilid terakhir serial buku Herriot, aku belum menemukan nama kota Edensor. Edensor sendiri ada di Derbishire.
Mudah2an di buku Maryamah Karpov yang konon akan terbit Agustus tahun ini, Andrea bakal menjelaskan ada apa gerangan sampai kota Thirsk a.k.a. Darrowby harus disamarkan ulang menjadi Edensor.
So, bro, pikun kita cuman kronik. Tapi nggak akut! Cerialah
